Beberapa kali lewat Jalan Pakem – Turi, tempat makan ini selalu saja ramai pengunjung pada jam makan siang. Menurut saya, tempat makan ini memang sangat sederhana. Bangunan dari bamboo dengan suasana khas pedesaan. Mmm…penasaran juga ni, ada apakah di warung ini?

Sebuah banner usang terpampang tepat di depan bangunan. Tulisan sederhana yang khas dengan mudah terbaca saat turun dari kendaraan; Warung Makan Lombok Ijo Mbah Wiji: Sego Abang Khas Gunungkidul. Hahaha… pantesan Pak Yo, seorang yang pertama kali mengenalkan saya dengan warung ini, sangat sering makan di sini.

Feels like home… Suasana yang seperti makan di rumah sendiri. Mebelair rumah kampong sesuai dengan bangunan, dengan jendela terbuka sehingga cahaya dan udara segar pun menyatu dengan suasana pedesaan.

Nah…sekarang menjajal menu.. Nasi merah, sayur tempe yang full cabe dan sayur daun pepaya yang menggoda pun tersaji. Ditambah sederet lauk pauk yang menggoda selera. Hmm..lapar saya mendadak sirna..

Membayangkan suasana pedesaan Gunungkidul di kaki Gunung Merapi dengan sajian menu khas Gunungkidul yang menggugah selera. Empal daging yang empuk, tahu dan tempe bacem yang manis, pepes ikan dan bothok teri, en ayam goreng yang menggoda iman.. Ditambah sepiring trancam segar.. Nyummy…

I’m already sweating…gara-gara teh poci yang tersaji di gelas kecil dengan gula batu yang mantap. Lengkap sudah rasanya memanjakan perut yang kosong..

Kalo di tempat makan lain, itungannya per porsi alias per piring. Kalo di sini per paket..mulai dari paket 2 orang sampai paket besar yang jumlahnya puluhan… Harganya cocok lah buat kantong eaters… Paket 2 orang nggak nyampe 30 ribu. Hmmm..recommended lah buat makan siang.

Better try and taste it…!

[divider]