[dropcap size=dropcap]W[/dropcap]ajahnya mensiratkan kebijakan, garis mukanya dibentuk oleh pengalaman dan falsafah hidup yang sedemikian rupa. Hal ini saya temukan waktu pertama kali saya ke Rumah Makan (RM) Jejamuran di Jogja. Kami bertiga berniat liputan untuk  2 media online yang coba kami bangun, salah satunya di bidang kuliner dan kami memutuskan salah satu tempat yang akan dikunjungi adalah Jejamuran.

Pertama kali bertemu dengan Pak Ratidjo adalah saat kita akan memilih tempat duduk untuk memesan makanan, pada waktu itu saya melihat ada bapak-bapak kira-kira berumur 60-an sedang mengobrol dengan salah satu pengunjung restoran, waktu itu saya belum tau beliau adalah pemilik Rumah Makan yang kami singgahi.

Kami memilih tempat duduk yang terletak di tengah-tengah RM, lorong antara dua pendopo besar dan disampingnya ada berbagai macam jenis jamur dan ada penjelasannya tentang nama dan manfaat jamur tersebut. Tempat duduk yang kami tempati pada dindingnya terdapat banyak pigura foto, kliping liputan tentang jejamuran, dari foto bersama presiden sampai menteri ada disitu. Dari sanalah saya mengetahui bahwa bapak setengah baya tersebut adalah pemilik Jejamuran yang menerima berbagai penghargaan di pigura-pigura tersebut.

Pak Ratidjo memulai belajar tentang jamur sejak tahun ‘68, beliau belajar dari orang Taiwan, negara pusat mengembangan jamur pada waktu itu. Dimulai dari perusahaan jamur di Dieng, dengan 7000 karyawan, produk jamur dengan kualitas ekspor sudah dipasarkan ke berbagai negara, tetapi perusahaan ini tidak bertahan dan kolaps.

Rumah Makan Jejamuran dimulai dari satu meja di pinggir jalan, pelanggan pertama jejamuran adalah para sopir truk yang lewat dan bapak petani yang pulang dari sawah, waktu itu tahun ‘97, kenang Pak Ratidjo. Sedangkan Rumah Makan Jejamuran secara resmi di buka pada tahun 2006 lalu.

Etos Kerja

Jadi kalau bekerja tidak nunggu disuruh

Dari cerita beliau terlihat jelas motto hidup dan idealisme dalam bekerja. Karyawan Jejamuran setiap hari pada pukul 08.00 di briefing tentang job desk pekerjaannya. Dari tukang parkir sampai koki. Setiap karyawan dikondisikan untuk mencintai perkerjaannya, tahu akan tanggung jawab masing masing. “Jadi kalau bekerja tidak nunggu disuruh” kata Pak Ratidjo.

Memilih Karyawan

Daripada bekerja sebagai penambang pasir, mereka saya berikan pilihan yang lebih baik untuk bekerja ditempat saya, saja ajak ngobrol kebutuhannya apa, saya akan coba memenuhi

Secara gamblang Pak Ratidjo menjelaskan bahwa bekerja di Jejamuran tidak untuk karir. Banyak lulusan tata boga keluar masuk bekerja di jejamuran, tidak ada yang bertahan lama.

Maka dari itu beliau mencari karyawan restonya dengan cara unik. Karena disekitar daerah tersebut banyak sekali orang yang mengangkut pasir untuk mata pencahariannya, maka orang-orang tersebut diajak ngobrol Pak Ratidjo untuk bekerja ditempatnya. “Daripada bekerja sebagai pengangkut pasir, mereka saya berikan pilihan yang lebih baik untuk bekerja ditempat saya, saja ajak ngobrol kebutuhannya apa, saya akan coba memenuhi”.

Begitupun juga dengan koki-koki dan juru masak, tidak ada yang lulusan tata boga. Sebagian besar juru masaknya adalah ibu-ibu dari desa sekitar yang ditinggal suami dan mempunyai anak sebagai tanggungan. Pendekatan yang dilakukan sama dengan karyawan yang lain, diajak ngobrol tentang kebutuhan dan tanggung jawabnya. Sampai sekarang, kesejahteraan karyawan jejamuran semakin membaik, selain karena pengunjung yang semakin banyak, sudah pula diterapkan asuransi jiwa untuk setiap karyawan sehingga mereka lebih nyaman untuk bekerja.

Jejamuran Resto

Jejamuran Resto

 

“Berbicara” dengan Jamur
Pak Ratidjo menjelaskan bahwa dulu banyak sekali orang yang tiba-tiba membuka restoran jamur seperti dirinya. Tapi sampai sekarang tidak ada yang bertahan lama. Banyak restoran yang dibuka banyak juga yang tiba-tiba tutup dengan berbagai sebab.

Beliau menyakini bisnisnya akan bertahan karena dia yakin dan mencintai bidang yang digelutinya ini. “Memang banyak orang yang membuka restoran jamur, mereka tidak lama bertahan karena tidak total mencintai pekerjaan mereka, belum-belum sudah menghitung keuntungan yang akan didapat, tidak memikirkan budidaya yang benar” ujarnya. “Kalau saya sudah belajar tentang jamur sejak tahun ‘68, istilahnya saya sudah bisa “berbicara” dengan jamur” katanya. “Kalau saya masuk ke pembiakan dan melihat jamur maka saya tahu apa yang mereka butuhkan, apakan hawa terlalu panas, kelembabannya kurang, dan lain-lain.

Seakan mereka ngomong sama saya” Jelas Beliau.

Kalau saya masuk ke pembiakan dan melihat jamur maka saya tahu apa yang mereka butuhkan, apakan hawa terlalu panas, kelembabannya kurang, dan lain-lain. Seakan mereka ngomong sama saya.

Tentang Wirausaha
Obrolan kita semakin panjang lebar, kita sekali-kali menambahi cerita dan penjelasan dari beliau tentang pemikirannya dan usaha yang digeluti. Pak Ratidjo mengatakan bahwa untuk membangun suatu usaha rumusnya semua sama, tidak ada yang instan, harus fokus, lebih baik dari yang lain dan mencintai pekerjaan itu. Karakter inilah yang coba diturunkan kepada anak-anaknya.

Seperti yang dijelaskan oleh beliau bahwa managemen perusahaan sekarang dipegang oleh anak-anaknya. Dari masalah keuangan sampai manajemen tempat budidaya jamur itu sendiri. “Saya tau persis karakter anak-anak saya, mereka pasti mengikuti gaya hidup sederhana seperti saya, yang tidak saya tau kan karakter-karakter pendampingnya” Ujar Beliau, dan kita semua tertawa.

Saya tau persis karakter anak-anak saya, mereka pasti mengikuti gaya hidup sederhana seperti saya, yang tidak saya tau kan karakter-karakter pendampingnya.

Begitu mengesankan pertemuan kami dengan Pak Ratidjo, saya pun meminta ijin untuk foto bersama dan beliaupun dengan senang hati meluluskannya. Setelah kami berpamitan saya sempat menoleh kebelakang dan selalu dengan senyum ramahnya beliau menyapa pengunjung yang baru saja datang, mungkin memberikan cerita dengan semangat yang sama…