Yogyakarta  dan Malioboro adalah dua hal yang identik dengan malam panjang dan senyum lebar ketika orang menyusuri jalanan ini. Malioboro sekarang lihat saja, banyak dipadati dengan wisata belanja di siang hari dan malam hari oleh turis domestik maupun mancanegara memadati jalanan ini. Itulah mengapa sepanjang jalan ini akan ramai oleh penjaja kuliner di malam hari. Kalau kita perhatikan lagi penjaja kuliner di daerah ini mayoritas menawarkan menu kuliner yang rata-rata adalah gudeg. analysis of a website Mengapa begitu, tentu saja karena gudeg adalah makanan khas Jogjakarta.

Jalan malioboro adalah salah satu rute menuju pulang kerumah sepulang saya beraktifitas, tengah malam dan dini hari adalah prime time dimana saya akan dilanda kelaparan akut setelah beraktifitas. Malam ini saya kebetulan sedang bersama seorang kawan yang baru saja datang dari Jakarta. Dan tiba-tiba saat melewati malioboro saya mendapat ajakan makan gudeg. Ayuk aja pikir saya. Kami pernah mendapat rekomendasi dari seorang kawan bahwa gudeg di depan toko jam Gunung Mas ada gudeg ceker yang enak. Setelah kami menyusur jalan dan mencari ciri-ciri penjual yang diberikan teman kami, kami memarkir motor dan mendadak mengelus perut saat melihat panic-panci berisi gudeg dan ceker yang disajikan. Melihatnya saya kami langsung lapar.

 

Seperti umumnya warung gudeg, warung gudeg yang kami kunjungi ini merupakan warung lesehan yang ruangnya adalah public area. Tempat duduknya biasanya adalah tikar atau karpet, dengan meja rendah, pencahayaan neon yang super terang dan rolling door toko yang menjadi sandaran duduk kami tetapi yang menjadikan istimewa makan disini tentu adalah pemandangan jalanan malioboro di malam hari itu tidak ada duanya.

Disaat kami duduk tepat diatas kami sudah terpampang backdrop yang yang menuliskan menu-menu yang mereka jual, disana tertulis :

  1. Gudeg Ceker
  2. Gudeg Ayam goreng

Simple sekali bukan? Hehehe

Sebelum kita pesan makanan, kita akan ceritakan apa sih itu gudeg. Gudeg itu masakan khas jawa, sebenarnya tidak hanya di Jogja, namun di kota lain cara memasak gudegnya berbeda. Untuk di Jogja, gudeg yang dimaksud adalah sayur dari buah nangka muda yang direbus dengan bumbu rempah, dan santan kental dan gula jawa sampai kuahnya hampir mengering. Itu kenapa rasa gudeg manis dan gurih, gurih yang dihasilkan dari santan dan kaldu ayam. Untuk penyajian gudeg biasanya ditambahi dengan krecek, apa itu krecek? Krecek itu adalah kulit sapi yang diolah sampai menyerupai kerupuk dan apabila direbus akan menghasilkan cita rasa yang cukup menarik karena kita akan merasa seperti makan permen  yupi yang diberi kaldu sapi hehe… krecek sendiri biasanya dimasak dengan kuah santan pedas. Perpaduan antara rasa gori ( nangka muda) yang manis gurih akan sangat pas apabila diberi siraman pedas kuah krecek ini.

Tanpa pikir panjang kita memesan dua porsi gudeg ceker dan teh manis. Setelah lima menit menunggu, ternyata dihadapan kami muncul 2 piring yang isinya menggunung. Bayangan saya seperti umumnya, nasinya akan disajikan sedikit dan cekernya satu atau dua buah, ternyata pikiran saya salah. Porsi nasi yang cukup banyak, gudeg, dan ceker yang jumlahnya ada 7 buah. Aromanya sungguh membuat saya langsung kelaparan.

Pertama kali yang saya lakukan adalah menyantap cekernya. Ceker itu kaki ayam, hampir seluruh warung di jogja menjual makanan satu ini,tapi kali ini saya boleh salut dengan bu sastro karena beliau memasak ceker sangat enak. Selain rasanya yang gurih, ceker yang beliau masak ini sangat empuk. Hanya dengan sekali gigit, seluruh dagingnya akan terkelupas dari tulangnya. Dan yang lebih membuat saya lebih excited lagi, ternyata ketika kita makan tulangnya, tulangnya juga lunak. Beliau tertawa ketika melihat saya makan seperti orang kesurupan, akhirnya dia bongkar sedikit rahasia. Itu lho mbak, syaa masak pake panci presto, biar yang pada makan nggak kesusahan.

Kesan pertama saya melihat porsi yang super large tadi mendadak berubah setelah menyatap seluruh makanan yang ada di piring. Karena satu piring saja tidak cukup, rasanya perlu menambah satu piring khusus ceker saja untuk benar-benar membuat kita tidur pulas dan bahagia ketika pulang kerumah.

Dan kalian pasti akan lebih bahagia lagi ketika pulang dan membayar makanan yang sudah dipesan. Oh iya, diwarung ini memang masih konvensional, artinya kita tidak akan tau harga dulu sebelum memesan. Jadi kita harus memesan baru tahu berapa yang harus kita bayar, tapi jangan kawatir, karena  kalian akan benar-benar menjadi bahagia ketika membayar bill, karena cukup dengan 8000 rupiah sudah cukup untuk membayar 1 porsi gudeg ceker dan 1 gelas es teh manisnya. Luar biasa, rasa-rasanya Cuma di Jogja tempat makanan ajaib seperti ini bisa ditemui..

[divider]